Google Ajukan Banding atas Vonis Denda Rp 202 Miliar oleh KPPU Indonesia

- Google menyatakan tidak sepakat dengan keputusan Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) di Indonesia, yang menjatuhkan denda Rp 202,5 miliar kepada raksasa teknologi itu.
Diketahui, pada Selasa (21/1/2025), KPPU memutuskan Google bersalah dan telah melanggar undang-undang anti-monopoli di Indonesia, untuk sistem pembayaran perusahaan untuk Google Play Store. KPPU pun menjatuhkan denda ratusan miliar rupiah itu kepada Google.
Kepada KompasTekno, juru bicara Google menyatakan tidak sepakat dengan putusan KPPU tersebut dan akan mengajukan banding.
"Berdasarkan pemahaman kami atas siaran pers yang diumumkan oleh KPPU, kami tidak sepakat dengan keputusan KPPU dan akan menempuh jalur banding," tulis juru bicara Google kepada KompasTekno, Rabu (22/1/2025).
"Kami meyakini bahwa praktik yang kami terapkan saat ini berdampak positif pada ekosistem aplikasi di Indonesia," lanjutnya.
Baca juga: Google Tanggapi Kabar Dugaan Praktik Monopoli di Indonesia
Google mengeklaim telah mendorong terciptanya lingkungan yang sehat dan kompetitif melalui penyediaan platform yang aman, akses ke pasar global, serta keberagaman pilihan, termasuk alternatif sistem penagihan sesuai pilihan pengguna (User Choice Billing) di Google Play.
Di luar platform mereka, Google juga mengaku telah memberikan dukungan aktif kepada para pengembang Indonesia melalui berbagai inisiatif yang komprehensif.
Meski demikian, juru bicara itu menegaskan bahwa perusahaan berkomitmen untuk selalu patuh kepada hukum Indonesia dan akan terus berkolaborasi secara konstruktif dengan KPPU dan semua pihak terkait sepanjang proses banding berjalan.
Sejak 2022
Investigasi terhadap Google Alphabet Inc. oleh KPPU dimulai sejak 2022, didorong oleh kekhawatiran bahwa perusahaan tersebut telah memanfaatkan posisinya yang dominan untuk memberlakukan Google Play Billing kepada para pengembang aplikasi di Indonesia.
Google diduga melanggar Pasal 17, 19 Huruf (a) dan (b), serta Pasal 25 Ayat (1) Huruf (a) dan (b) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
Tuduhannya adalah monopoli distributor aplikasi di Google Play, sistem pembayaran tunggal, dan potongan komisi terhadap developer yang tinggi.
Google diduga mewajibkan perusahaan yang mendistribusikan aplikasinya melalui Google Play Store menggunakan Google Play Billing (GPB) System. Jika tidak patuh, Google mengancam akan memberikan sanksi dengan menghapus aplikasi tersebut dari Google Play Store.
Baca juga: Google Digugat, Dituduh Monopoli Iklan Digital
Kebijakan Google ini dinilai menguntungkan Google dan merugikan pengembang. Menurut penelitian KPPU, Google Play Store merupakan platform distribusi aplikasi terbesar di Indonesia dengan pangsa pasar mencapai 93 persen.
Apa itu Google Play Billing yang jadi sumber masalah?
GPB adalah metode atau pembelian produk dan layanan digital dalam aplikasi (in-app purchases) yang didistribusikan di Google Play Store di Indonesia. Kebijakan penggunaan GPB di toko aplikasi bawaan perangkat Android ini efektif diterapkan pada 1 Juni 2022.
Atas penggunaan GPB tersebut, Google mengenakan tarif layanan (fee) sebesar 15 persen hingga 30 persen dari harga pembelian kepada pengembang aplikasi.
Kebijakan penggunaan GPB tersebut mewajibkan aplikasi yang diunduh dari Google Play Store harus menggunakan GPB sebagai metode transaksinya. Penyedia konten atau pengembang (developer) aplikasi wajib memenuhi ketentuan yang ada dalam GPB tersebut.
Ada empat jenis aplikasi yang dikenakan kewajiban penggunaan GPB tersebut.
- Aplikasi yang menawarkan langganan (seperti pendidikan, kebugaran, musik, atau video).
- Aplikasi yang menawarkan digital items yang dapat digunakan dalam permainan/game.
- Aplikasi yang menyediakan konten atau kemanfaatan (seperti versi aplikasi yang bebas iklan).
- Aplikasi yang menawarkan cloud software and services (seperti jasa penyimpanan data dan aplikasi produktivitas)
Tak hanya itu, berdasarkan aturan Google, para pengembang tidak diizinkan menggunakan alternatif pembayaran lainnya.
Selain itu, Google juga tidak memperbolehkan penggunaan alternatif pembayaran lain di GPB. Aplikasi yang tidak mematuhi kebijakan tersebut akan dihapus oleh Google Play Store.
Terkini Lainnya
- Tablet Huawei MatePad Pro 13.2 Rilis di Indonesia 26 Februari, Ini Spesifikasinya
- Daftar Harga YouTube Premium di Indonesia, Mulai dari Rp 41.500
- Cisco Umumkan AI Defense, Solusi Keamanan AI untuk Perusahaan
- Menggenggam HP Lipat Tiga Huawei Mate XT Ultimate, Smartphone Tipis Rasa Tablet
- Smartphone Vivo Y29 4G Meluncur, Bawa Baterai Jumbo 6.500 mAh
- 3 Cara Mengaktifkan Touchpad Laptop Windows dengan Mudah dan Praktis
- HP Lipat Oppo Find N5 Sangat Tipis, Ini Rahasia di Baliknya
- Fitur Foto Anti-gagal di Samsung Galaxy S25 Ultra Ini Wajib Dipakai Saat Nonton Konser
- Gimbal Smartphone DJI Osmo Mobile 7 Pro Dirilis, Sudah Bisa Dibeli di Indonesia
- 10 Aplikasi untuk Menunjang Ibadah Puasa Ramadhan 2025 di iPhone dan Android
- Merekam Foto dan Video Konser Makin "Seamless" dengan Cincin Pintar Galaxy Ring
- Angin Segar Investasi Apple, Harapan iPhone 16 Masuk Indonesia Kian Terbuka
- Melihat Tampilan iPhone 16e, Serupa tapi Tak Sama dengan iPhone 14
- HP Lipat Oppo Find N5 Segera Rilis di Indonesia, Kapan?
- Lagu "Bayar Bayar Bayar" Band Sukatani Menghilang dari Spotify dkk
- KPPU RI Denda Google Rp 202 Miliar
- Pengguna Instagram Kini Bisa Lihat Reels yang Di-"Like" Teman
- Laptop MacBook Pro dengan Chip M4 dan M4 Pro Resmi di Indonesia, Ini Harganya
- Cabutan Spektrum Bayangi Merger XL Smart
- Link Streaming Peluncuran Samsung Galaxy S25 Nanti Malam