Kominfo Akan Lelang Frekuensi ex-IOH

Kementerian Kominfo akan melelang spektrum frekuensi selebar 5 GHz di rentang 2,1 GHz (2100 MHz) FDD (frequency division duplexing) yang akan kosong pada 3 Januari 2023. Frekuensi yang terletak di 1975 – 1980 MHz berpasangan dengan 2165 – 2170 MHz itu diserahkan pemilik semula, Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) sebagai bagian dari proses merger Indosat dan Hutchison Tri (3) beberapa waktu lalu.
Merger keduanya membuat mereka memiliki spektrum frekuensi selebar 142,5 MHz, yang terdiri dari 92,5 MHz milik Indosat dan 50 MHz milik Hutchison Tri Indonesia (3). Angka ini dianggap terlalu lebar hanya untuk melayani 94 juta pelanggan gabungan, sehingga pemerintah mewajibkan IOH mengembalikan 10 MHz (2X5Mhz) di spektrum 2100 MHz untuk dilelang.
Sebagai perbandingan, pemilikan frekuensi operator saat ini paling banyak Telkomsel dengan 147,5 MHz termasuk 50 MHz TDD (time division duplexing) di spektrum 2300 MHz, IOH 132 MHz, XL Axiata 90 MHz, dan Smartfren 62 MHz. Pita selebar 2 X 7,5 MHz di spektrum 450 MHz semula milik Sampurna Telekomunikasi Indonesia sudah dicabut pemerintah karena operator menunggak bayar BHP (biaya hak penggunaan) frekuensi.
Semua operator berniat ikut lelang untuk mendapatkan 2X5 MHz di spektrum 2100 MHz itu, bahkan juga Smartfren yang tidak memiliki frekuensi FDD. Kata Dirut Smartfren, Merza Fachys, “Kita masih ngitung-ngitung cost & benefitnya antara ikutan dan tidak. Mudah2-an bagus hasilnya jadi bisa ikutan.”
Sementara Dirut PT Telkomsel, Hendri Mulya Syam menegaskan, “Kita akan ikutan.” Berapa kira-kira harga lelang 5 MHz (2X) itu? Menurut Hendri, “Kita punya harga referensi yang lama.” Berapa? “Engga ingat”, katanya.
Merza Fahys berharap harganya tidak terlalu mahal. “Kalau lihat hasil lelang terakhir yang jangan lebih, berkisar antara Rp 450 – 500 miliar”.
Sementara catatan hasil lelang spektrum frekuensi 2100 MHz per blok selebar 5 MHz (X2) yang dimenangkan Indosat dan Tri, masing-masing membayar Rp 423,084 miliar pada Oktober 2017. Hanya dua blok tersedia sehingga XL Axiata yang juga ikut lelang tidak menang.
Tahun berat
Lelang frekuensi dilakukan untuk membuka kesempatan Kementerian Komunikasi dan Informatika (kominfo) mendapat PNBP, penerimaan negara bukan pajak. Selain dari jualan frekuensi, PNBP Kominfo juga didapat dari BHP dan pungutan resmi lainnya.
Tahun ini dan tahun depan akan merupakan tahun cukup berat bagi operator seluler yang mau tidak mau harus membeli spektrum untuk modal utama prasarana kerja mereka. Kominfo sedang ancang-ancang untuk melelang sekitar 90-an MHz di spektrum 700 MHz bekas televisi siaran analog yang mengikuti program ASO (analog switch off) yang dipindah ke layanan digital yang hemat frekuensi.
Tahun depan, 2023 juga, pemerintah akan melelang masing-masing pita selebar 1.000 MHz di rentang 26 GHz (26000 MHz) dan 35 GHz yang dibutuhkan operator untuk menggelar layanan generasi kelima (5G). Besaran harga lelang di spektrum ini tampaknya tidak akan mengikuti harga lelang 5 MHz di 2100 MHz, karena berbagai pertimbangan, antara lain tiap operator butuh lebih dari 100 MHz untuk layanan 5G, selain biaya penggelaran 5G juga lebih mahal.
Di sisi lain, disebut FDD karena penggunaan frekuensi yang berbeda antara pengiriman (transmitter) dan penerimaan (receiver), sehingga komunikasi dua arah bisa berlaku bersamaan. Sementara teknologi TDD, pengiriman dan penerimaan dilakukan bergantian dengan menggunakan satu lebar frekuensi yang sama, dengan jeda yang sangat singkat yang membuatnya lebih hemat spektrum.
Dari dua kali lelang frekuensi 2300 MHz TDD, lelang yang dimenangkan Telkomsel untuk pita selebar 30 MHz merupakan yang terbesar, mencapai Rp 1,05 triliun. Telkomsel berkeras untuk memenangi lelang karena TDD berkapasitas besar antara lain dengan sistem penggunaan kembali frekuensi (re use) dengan jarak antara-BTS yang pendek, juga karena TDD hemat frekuensi.
Dari sejumlah lebar pita frekuensi yang digunakan di Indonesia, hampir semua berteknologi FDD, yaitu 450 MHz, 850 MHz, 900 MHz, 1800 MHz dan 2100 MHz, sementara spektrum yang dimiliki Smartfren dan juga Telkomsel, 2300 MHz, menggunakan TDD. Telkomsel dan Smartfren memanfaatkan TDD untuk memberi pengalaman layanan internet lebih cepat kepada pelanggan mereka. *
Terkini Lainnya
- Cara Mengaktifkan Kembali M-Banking BCA Terblokir tanpa Harus ke Bank
- 7 Game PS5 Menarik di Sony State of Play 2025, Ada Game Mirip GTA V
- Samsung Pinjamkan 160 Unit Galaxy S25 Series di Acara Galaxy Festival 2025
- 15 Masalah yang Sering Ditemui Pengguna HP Android
- Samsung Gelar Galaxy Festival 2025, Unjuk Kebolehan Galaxy S25 Series lewat Konser dan Pameran
- Apa Beda Login dan Sign Up di Media Sosial? Ini Penjelasannya
- Kenapa Kursor Laptop Tidak Bergerak? Begini Penyebab dan Cara Mengatasinya
- Oppo A3i Plus Resmi, HP Rp 3 Jutaan dengan RAM 12 GB
- 2 Cara Melihat Password WiFi di MacBook dengan Mudah dan Praktis
- Xiaomi Umumkan Tanggal Rilis HP Baru, Flagship Xiaomi 15 Ultra?
- Wajib Dipakai, Fitur AI di Samsung Galaxy S25 Ultra Bikin Foto Konser Makin Bersih
- Ramai Konser Hari Ini, Begini Setting Samsung S24 dan S25 Ultra buat Rekam Linkin Park, Dewa 19, NCT 127
- WhatsApp Sebar Fitur Tema Chat, Indonesia Sudah Kebagian
- Ini Mesin "Telepati" Buatan Meta, Bisa Terjemahkan Isi Pikiran Jadi Teks
- Begini Efek Keseringan Pakai AI pada Kemampuan Berpikir Manusia
- Link dan Cara Cek Status Pendaftaran DTKS Jakarta 2022 Tahap 3
- Klasemen MPL S10 Pekan Ketiga, Evos Legends Puncaki Posisi Setelah Geser RRQ Hoshi
- Negara Ini Tarik Pajak dari Impor GPU, Dihitung Berdasarkan Kapasitas VRAM
- Samsung Klaim Pemesanan Z Fold 4 dan Z Flip 4 Lampaui Generasi Sebelumnya
- Tarif Ojol Batal Naik Hari Ini