Warga Eropa Terancam Tak Bisa Pakai Facebook dan Instagram

- Warga Eropa terancam tak bisa menggunakan media sosial Facebook dan Instagram lagi di negaranya. Hal ini menyusul rencana Meta Platforms Inc. (dulu Facebook Inc.) yang kemungkinan bakal menghentikan operasi Facebook dan Instagram di wilayah Eropa.
Rencana ini dilatarbelakangi karena perusahaan rintisan Mark Zuckerberg itu agaknya tidak bisa menargetkan iklan ke penggunanya di Eropa karena terbentur Peraturan Perlindungan Data Umum (GDPR) yang berlaku di Uni Eropa.
Hal tersebut terungkap dalam sebuah laporan tahunan Meta kepada Komisi Sekuritas dan Perdagangan (Securities and Exchange Commission/SEC) Amerika Serikat.
Dalam laporannya, Meta mengatakan bahwa selama ini perusahaannya telah tunduk pada undang-undang dan peraturan di wilayah tempat perusahaan beroperasi terkait aturan berbagai (transfer), memproses dan/atau menerima data tertentu yang penting untuk operasi layanan Meta.
Termasuk data yang dibagikan antar negara atau wilayah tempat Meta beroperasi dan data yang dibagikan antara produk dan layanan Meta.
Sebab, menurut Meta, memproses data pengguna antar-negara sangat penting untuk bisnis perusahaan, baik secara operasional maupun untuk penargetan iklan.
Dalam kasus ini, data penduduk Uni Eropa sendiri dilindungi di bawah Peraturan Perlindungan Data Umum (GDPR).
Baca juga: Persulit Iklan dari Pesaing, Google Didenda Rp 24 Triliun di Eropa
Aturan ini mensyaratkan bahwa setiap perusahaan, termasuk Meta, baru dapat mengirim (transfer) data penggunanya di Uni Eropa ke negara lain, berdasarkan klausul kontrak standar (standard contractual clauses/SCC).
SCC sendiri berisi klausul kontrak yang disetujui oleh Komisi Eropa untuk memastikan proses berbagi data warga Uni Eropa ke negara ketiga di luar Uni Eropa sesuai dengan GDPR.
Masalahnya, pada Agustus 2020 lalu, Komisi Perlindungan Data Irlandia (IDPC) telah mengeluarkan keputusan awal yang menyimpulkan bahwa klausul kontrak standar data pengguna milik Meta Platform Irlandia tidak sesuai dengan GDPR.
Alhasil, keputusan awal IDPC itu bakal membuat Meta, induk Instagram dan Facebook agaknya bakal kesulitan untuk memproses data penggunanya yang ada di wilayah Uni Eropa. Buntutnya, Meta tidak akan dapat menargetkan iklan ke penggunanya di Eropa.
Jika Meta tidak dapat mencapai kesepakatan berbagi data baru dengan Komisi Eropa, perusahaan Mark Zuckerberg ini mengancam akan menghentikan layanan Facebook dan Instagram di Benua Biru itu.
"Kami kemungkinan tidak akan dapat menawarkan sejumlah produk dan layanan penting kami, termasuk Facebook dan Instagram, di Eropa," tulis Meta dalam laporan SEC.
Baca juga: Warga Australia Terancam Hidup Tanpa Google Search
Meta turut mengungkapkan bahwa penghentian layanan Facebook dan Instagram di Eropa akan berdampak secara material pada perusahaan, termasuk merugikan bisnis, kondisi keuangan, dan hasil operasi perusahaan.
Dalam keterangan terpisah VP Global Affairs Meta Nick Clegg mendesak agar regulator dapat menyediakan solusi berbagai data pengguna Uni Eropa, agar bisnis Meta dan bisnis perusahaan lain yang mengandalkan skema SCC tidak terganggu.
"Kami mendesak regulator untuk mengadopsi pendekatan proporsional dan pragmatis untuk meminimalkan gangguan terhadap ribuan bisnis lain yang seperti Facebook, yaitu telah mengandalkan mekanisme ini dengan itikad baik untuk mentransfer data dengan cara yang aman dan terjamin," kata Clegg, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Mashable, Senin (7/2/2022).
Baca juga: Warga Australia Tak Bisa Lagi Baca Berita dari Facebook
Terkini Lainnya
- Cara Cek Numerologi di ChatGPT yang Lagi Ramai buat Baca Karakter Berdasar Angka
- 61 HP Samsung yang Kebagian One UI 7
- AMD dan Nvidia Kompak Umumkan Tanggal Rilis GPU Terbarunya
- 15 Masalah yang Sering Ditemui Pengguna HP Android
- Sempat Keluar dari Indonesia, 4 Merek Smartphone Ini Comeback ke Tanah Air
- Keracunan Data, Modus Baru Menyasar Pelatihan AI
- Oppo A3i Plus Resmi, HP Rp 3 Jutaan dengan RAM 12 GB
- Broadcom dan TSMC Ingin Pecah Intel Jadi 2 Perusahaan
- WhatsApp Sebar Fitur Tema Chat, Indonesia Sudah Kebagian
- Bocoran Harga Xiaomi 15 Ultra yang Meluncur Sebentar Lagi
- 2,5 Miliar Akun Gmail Terancam AI Hack
- Arti “Fortis Fortuna Adiuvat” yang Sering Muncul di Bio TikTok dan Instagram
- Ditunjuk Jadi "Staff Khusus", Berapa Gaji Elon Musk?
- Meta Bikin Mesin "Pembaca Pikiran" Bertenaga AI, Begini Bentuknya
- Cara Mengaktifkan Kembali M-Banking BCA Terblokir Tanpa Harus ke Bank
- Mengenal BI FAST, Layanan Transfer Antar-bank Online Hanya Rp 2.500
- Ini Dia Penampakan Oppo Reno7 Versi Indonesia, Beda dengan China
- Microsoft Tunjuk Dharma Simorangkir sebagai Presiden Direktur di Indonesia
- MPL ID Season 9 Digelar Offline 18 Februari, Bisa Ditonton di Bioskop
- Tinder Blokir Akun Simon Leviev Setelah Film "Tinder Swindler" Tayang di Netflix