Hacker Sandera Data Saudi Aramco, Minta Tebusan Rp 700 Miliar

- Saudi Aramco, perusahaan minyak terkaya di dunia saat ini, mengonfirmasi bahwa sejumlah file perusahaan mereka dikuasai oleh peretas, dan meminta tebusan 50 juta dollar AS (sekitar Rp 724 miliar).
Menurut keterangan resmi dari Saudi Aramco, data yang bocor tersebut adalah data yang dimiliki oleh perusahaan kontraktor Aramco, alias pihak ketiga.
"Kami memastikan bahwa kebocoran data itu bukan karena pembobolan di sistem kami, dan tidak berimbas pada operasional, perusahaan terus mempertahankan postur keamanan siber yang kuat," tulis pernyataan Aramco, dikutip KompasTekno dari Financial Times, Kamis (22/7/2021).
Menurut laporan, jumlah data yang bocor yang diambil dari kontraktor Aramco mencapai 1 TB, mencakup data tentang lokasi-lokasi penambangan minyak, gaji karyawan, hingga data sensitif milik klien dan karyawan Saudi Aramco.
Hacker pemeras mengumbar di situs darknet bahwa mereka telah menguasai data tersebut dan meminta tebusan 50 juta dollar AS dalam bentuk mata uang kripto Monero, jika Aramco ingin data tersebut dihapus.
Baca juga: Data BPJS Kesehatan Bocor, Cek Apakah Anda Terdampak?
Dengan membayar dalam bentuk mata uang kripto, peretas nampaknya berharap pihak berwenang akan kesulitan untuk melacaknya.
Selain itu, di situs tersebut peretas juga menawarkan jika ada yang berminat membeli data milik Saudi Aramco, bisa menebusnya dengan harga 5 juta dollar AS (sekitar Rp 72 miliar).
Baca juga: Hacker Klaim Bobol dan Bocorkan Data Internal Pertamina
Perusahaan energi memang kerap menjadi sasaran serangan siber. Sebelumnya, Colonial Pipeline, perusahaan sistem pipa minyak berbasis di Houston, Texas, AS, pada Mei 2021 lalu juga menjadi korban peretasan dan pemerasan.
Lebih dari 100 GB data informasi milik perusahaan dikuasai oleh peretas, sehingga membuat perusahaan itu menghentikan jaringan distribusi minyaknya di AS, sehingga pasokan minyak berkurang di kawasan timur Amerika Serikat.
CEO Colonial Pipeline dikabarkan membayar tebusan 4,4 juta dollar AS (sekitar Rp 63 miliar) kepada kelompok peretas Rusia, DarkSide.
Perusahaan di Timur Tengah juga menjadi semacam magnet bagi peretas, menurut laporan dari PricewaterhouseCoopers LLP.
Tidak jelas siapa yang berada di balik insiden Aramco ini. Namun para peneliti siber mencatat bahwa serangan itu bukan bagian dari ransomware, di mana peretas menggunakan malware untuk merebut data pengguna, dan hanya melepaskannya setelah uang tebusan dibayarkan.
Peretas juga dikabarkan tidak mengklaim sebagai bagian dari kelompok peretas ransomware yang dikenal.
Baca juga: Hacker Jual Ribuan Rekaman Video dari Kamera Pengawas
Terkini Lainnya
- YouTube Shorts Tambah Fitur Editing Video untuk Saingi TikTok
- Apakah Dark Mode Bisa Menghemat Baterai HP? Begini Penjelasannya
- 3 Cara Upload File ke Google Drive dengan Mudah dan Praktis
- 7 Tips Hemat Penyimpanan Akun Google Gratis Tanpa Langganan
- 2 Cara Melihat Password WiFi di HP dengan Mudah dan Praktis
- 10 Cara Mengatasi WhatsApp Web Tidak Bisa Dibuka dengan Mudah, Jangan Panik
- Trump Beri TikTok 75 Hari Lagi, Cari Jodoh atau Blokir?
- iPad Dulu Dicaci, Kini Mendominasi
- AI Google Tertipu oleh April Mop, Tak Bisa Bedakan Artikel Serius dan Guyonan
- iOS 19 Rilis Juni, Ini 26 iPhone yang Kebagian dan 3 iPhone Tidak Dapat Update
- Intel dan TSMC Sepakat Bikin Perusahaan Chip Gabungan di AS
- 10 Bocoran Fitur iPhone 17 Pro, Modul Kamera Belakang Berubah Drastis?
- Cara Melihat Password WiFi di iPhone dengan Mudah dan Cepat
- Kenapa Tiba-tiba Ada SMS Kode Verifikasi di HP? Begini Penyebabnya
- Ketik Kata Ini di Google dan Fakta Menarik yang Jarang Diketahui Bakal Muncul
- iPhone di Indonesia Banyak Dikeluhkan Hilang Sinyal
- Seri Ponsel Realme GT Master Edition Resmi Meluncur, Harganya?
- Vivo Y53s Resmi Meluncur di Indonesia, Ini Harganya
- Video Detik-detik Penghancuran 1.069 Mesin Penambang Bitcoin di Malaysia
- Selamat Tinggal PES, Konami Resmikan Game Sepak Bola eFootball