Serangan Siber Meningkat Jelang Pilpres AS

- Microsoft mengklaim bahwa terjadi peningkatan serangan cyber oleh peretas (hacker) yang bekerja untuk Rusia, China, dan Iran, jelang pemilihan presiden (Pilpres) di AS.
Kabar ini disampaikan oleh Vice President of Customer Security and Trust Microsoft, Tom Burt lewat blog resmi Microsoft yang diunggah pada Kamis (10/9/2020).
Dalam blog tersebut, Tom Burt mengatakan bahwa hal itu berdasar penelitian yang dilakukan oleh para ahli keamanan di Microsoft.
"Dalam beberapa minggu terakhir, Microsoft mendeteksi serangan siber yang menargetkan orang dan organisasi yang terlibat dalam pemilihan Presiden mendatang," tulis Burt.
Baca juga: Donald Trump Dikerjai Warga TikTok, Kampanye Pilpres Jadi Sepi
Microsoft juga menemukan bahwa dalam beberapa minggu terakhir, ada peningkatan aktivitas dari kelompok Rusia, yang mencoba menggunakan kombinasi nama pengguna dan kata sandi lama pada hampir 7.000 akun.
Percobaan peretasan ini dilakukan sejak 18 Agustus hingga 3 September 2020. Beberapa di antaranya berkaitan dengan pemilihan umum AS, namun Microsoft mengklaim hingga saat ini belum ada yang berhasil.
Salah satu target yang diretas adalah sebuah firma konsultan hukum Washington, yang bekerja untuk kampanye Joe Biden, bernama SKDKnickerbocker.
Berdasarkan laporan Reuters, Microsoft baru-baru ini telah mengingatkan perusahaan tersebut bahwa ada intelijen Rusia yang telah mengirim e-mail phishing ke SKDKnickerbocker.
E-mail phishing tersebut dapat mencuri informasi login yang dapat memberikan akses ke dokumen atau sistem pribadi.
Menurut Burt, Rusia sedang menargetkan lebih dari 200 organisasi yang di antaranya memiliki hubungan dan berafiliasi dengan pemilu AS atau kebijakan Eropa, termasuk konsultan untuk kedua partai besar AS.
Baca juga: Kampanye Trump di Pilpres AS 2020 Terancam Direcoki Hacker Iran
Sementara, direktur analisis intelijen di Mandiant Solutions, John Hultquist menjelaskan bahwa target para hacker itu adalah orang-orang yang memiliki hubungan dengan kampanye Joe Biden dan Presiden Donald Trump.
"Intelijen militer Rusia yang kami yakini merupakan ancaman terbesar bagi proses demokrasi ini," tutur Hultquist melalui pesan tertulis.
Kampanye pemilihan Presiden AS sendiri telah berjalan sekitar dua bulan. Sedangkan Pemilihan umum Presiden AS 2020, dijadwalkan pada Selasa, 3 November 2020. Ini akan menjadi pemilihan umum Presiden AS empat tahunan yang ke-59.
Terkini Lainnya
- YouTube Shorts Tambah Fitur Editing Video untuk Saingi TikTok
- Apakah Dark Mode Bisa Menghemat Baterai HP? Begini Penjelasannya
- 3 Cara Upload File ke Google Drive dengan Mudah dan Praktis
- 7 Tips Hemat Penyimpanan Akun Google Gratis Tanpa Langganan
- 2 Cara Melihat Password WiFi di HP dengan Mudah dan Praktis
- 10 Cara Mengatasi WhatsApp Web Tidak Bisa Dibuka dengan Mudah, Jangan Panik
- Trump Beri TikTok 75 Hari Lagi, Cari Jodoh atau Blokir?
- iPad Dulu Dicaci, Kini Mendominasi
- AI Google Tertipu oleh April Mop, Tak Bisa Bedakan Artikel Serius dan Guyonan
- iOS 19 Rilis Juni, Ini 26 iPhone yang Kebagian dan 3 iPhone Tidak Dapat Update
- Intel dan TSMC Sepakat Bikin Perusahaan Chip Gabungan di AS
- 10 Bocoran Fitur iPhone 17 Pro, Modul Kamera Belakang Berubah Drastis?
- Cara Melihat Password WiFi di iPhone dengan Mudah dan Cepat
- Kenapa Tiba-tiba Ada SMS Kode Verifikasi di HP? Begini Penyebabnya
- Ketik Kata Ini di Google dan Fakta Menarik yang Jarang Diketahui Bakal Muncul
- Penggemar Game "Animal Crossing" Bikin Replika Bangunan Ikonik dari Lego
- Asosiasi Sebut Blokir Ponsel BM lewat IMEI Mulai Berlaku 15 September
- Terungkap, Harga Asli Galaxy Note 20 Ultra Hanya Rp 8,2 Juta
- Streamer Gaming "Ninja" Akhirnya Kembali ke Twitch
- Film "Cuties" Diminta Dihapus dari Netflix