cpu-data.info

Grab Cari Pinjaman Rp 33 Triliun untuk Akuisisi GoTo-Gojek?

Ilustrasi Mitra Pengemudi Grab Indonesia.
Lihat Foto

- Perusahaan ride hailing raksasa asal Singapura, Grab Holdings (Grab) dikabarkan tengah dalam pembicaraan untuk mendapatkan pinjaman uang senilai hingga 2 miliar dollar AS atau setara Rp 33,2 triliun.

Pinjaman ini konon disiapkan untuk mendukung akuisisi perusahaan saingannya di Indonesia, GoTo Group (induk Gojek). Kabar ini pertama kali dilaporkan oleh Bloomberg News, mengutip sumber yang dekat dengan permasalahan tersebut.

Pinjaman yang disebut sebagai bridge loan ini diperkirakan memiliki tenor sekitar 12 bulan.

Bridge loan adalah pinjaman jangka pendek yang digunakan untuk membiayai kebutuhan sementara sebelum pendanaan jangka panjang tersedia.

Baca juga: Grab dan Gojek Dikabarkan Akan Bergabung

Dalam konteks pemberitaan Grab ini, bridge loan ini akan berfungsi sebagai pendanaan awal untuk mendukung rencana akuisisi GoTo, sebelum perusahaan mendapatkan sumber pendanaan lain, seperti obligasi atau penerbitan saham.

Biasanya, tenor bridge loan relatif singkat, dalam kasus ini sekitar satu tahun.

Namun, sumber yang enggan disebutkan namanya itu mengatakan bahwa pembicaraan dengan bank masih berada pada tahap awal dan rincian kesepakatan dapat berubah sewaktu-waktu.

Skenario akuisisi GoTo

Selain pinjaman jangka pendek, Grab juga dikabarkan mempertimbangkan opsi lain seperti penerbitan obligasi atau ekuitas setelah mendapatkan pinjaman awal.

Pada Feberuari lalu, isu merger Grab-GoTo juga sempat beredar. Grab dikabarkan mempertimbangkan beberapa skenario ketika mengakuisisi GoTo (Gojek). Salah satunya soal pembelian seluruh saham GoTo dengan harga Rp 100 rupiah per saham, menurut sumber yang mengetahui situasi tersebut.

Baca juga: Grab dan Gojek Dikabarkan Kembali Bahas Merger, Target Rampung 2025?

Jika skenario ini terealisasi, maka harga pembelian tersebut akan lebih tinggi sekitar 20 persen dari harga saham GoTo saat ini yang berada di level sekitar Rp 87. Pengambilalihan tersebut disebut akan menghasilkan valuasi lebih dari senilai 7 miliar dollar AS.

Skenario lainnya, pembahasan ini mungkin tidak mengarah pada transaksi merger sama sekali, kata sumber yang familiar dengan isu ini.

GoTo membantah - Februari 2025

Ilustrasi aplikasi GoTo. SHUTTERSTOCK/WIRESTOCK CREATORS Ilustrasi aplikasi GoTo.
Pembicaraan mengenai potensi merger antara Grab dan GoTo telah mencuat dalam beberapa waktu terakhir. Namun hingga kini belum ada kesepakatan yang tercapai, terutama karena adanya kekhawatiran terkait persaingan bisnis ride-hailing di kawasan Asia Tenggara.

Regulator persaingan usaha di Singapura pekan lalu juga menyatakan bahwa mereka belum menerima pemberitahuan resmi dari kedua perusahaan terkait potensi merger ini.

Baca juga: Kisah Cinta Gojek, PDKT ke Grab, Menikah dengan Tokopedia

Jika akuisisi ini benar-benar terjadi, maka industri ride-hailing dan layanan pengantaran makanan di Asia Tenggara akan mengalami perubahan signifikan, mengingat Grab dan GoTo (Gojek) merupakan dua pemain utama di sektor ini, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Reuters, Kamis (27/3/2025).

Hingga kini, Grab tidak memberikan komentar soal kabar merger dengan Gojek ini.

Sementara PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GoTo) telah membantah terkait beredarnya kabar akan diakuisisi oleh Grab Holdings Ltd (Grab) pada Februari lalu saat isu merger Grab-GoTo kembali mencuat kepermukaan.

Sekretaris Perusahaan GoTo, RA Koesoemohadiani menyampaikan bahwa tidak ada kesepakatan antara perseroan dengan pihak manapun untuk melakukan transaksi merger sebagaimana telah diberitakan di media massa.

"Perseroan mencatat bahwa berita yang sama juga beredar dari waktu ke waktu di masa lampau dalam beberapa tahun terakhir, dan berita-berita tersebut adalah berdasarkan spekulasi," ujar R A Koesoemohadiani, di Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa (4/2/2025).

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat