Generative AI bak Pisau Bermata Dua untuk Keamanan Siber

- Teknologi Generative Artificial Intelligence (Generative AI) seperti ChatGPT, bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi Generative AI bisa dimanfaatkan untuk serangan siber yang harus diantisipasi secara serius oleh organisasi di Indonesia.
Di sisi lain, teknologi Generative AI juga bisa membantu sistem keamanan siber di satu perusahaan.
Reuben Koh, Security Technology dan Strategy Director (APJ) Akamai Technologies mengatakan, satu jenis ancaman yang kecanggihannya meningkat pesat dan sangat mengkhawatirkan berkat Generative AI adalah kategori ransomware.
Ketika ancaman siber seperti ransomware itu berkembang lebih cepat karena dibantu alat seperti Generative AI, maka AI dan ML (Machine Learning) akan memainkan peran besar.
Kedua teknologi itu selain menjadi ancaman juga bisa digunakan untuk mempelajari, mendeteksi dan menghentikan ancaman terhadap perusahaan sebelum menimbulkan kerusakan.
Baca juga: 5 Serangan Ransomware Terbesar, Ada yang Minta Tebusan Rp 1 Triliun
"Ransomware mendapatkan keuntungan dari kemampuan AI untuk menjadi semakin canggih, mulai dari menyempurnakan serangan phising, hingga menguji peluang dan kasus-kasus penggunaan selama simulasi serangan," kata Reuben dalam keterangan yang diterima KompasTekno, Kamis (22/6/2023).
Untuk mendeteksi dan menghentikan ransomware secara efektif agar tidak berubah menjadi bencana siber, ada dua aspek yang perlu dilindungi menurut Reuben.
Pertama adalah serangan ransomware yang mencoba untuk masuk ke sistem dan jaringan penting (pencegahan dari luar ke dalam), dan kedua adalah serangan ransomware yang tengah berlangsung, karena serangan ini sudah berada di dalam sistem dan jaringan (deteksi dari dalam ke luar).
Ransomware biasanya akan mencoba menyusup masuk ke sistem dan jaringan setelah menemukan kelemahan dalam aset digital yang langsung diakses masyarakat umum, seperti sistem yang rentan, aplikasi yang tidak di-update, kredensial identitas yang disusupi dan sisttem/jaringan sudah mengalami serangan phising/malware.
Dengan mengadopsi pendekatan Zero Trust, pertama-tama sebuah perusahaan bisa memikirkan untuk mengurangi permukaan serangan digital seperti dengan meminimalkan paparan serangan terhadap sistem, aplikasi dan infrastruktur tidak dibutuhkan.
Selain itu, mereka harus melindungi identitas setiap pengguna dengan teknologi Multi-Factor Authentication (MFA) anti phising yang bisa menahan upaya phising.

Ketiga, setiap upaya akses ke aplikasi dan data akan diteliti, dimonitor dan mendapat prioritas paling buncit. Ketiga area penting ini bisa disederhanakan dengan menggunakan solusi Zero Trust Network Access (ZTNA) modern.
Baca juga: Nvidia Umumkan Supercomputer DGX GH200 untuk Kembangkan Produk Generative AI
Namun, setiap perusahaan harus menyadari bahwa tidak ada solusi keamanan yang bisa 100 persen mencegah serangan masuk ke dalam jaringan.
"Jadi, saat serangan ransomware bisa menyusupi jaringan dan sistem, mereka harus bersiap untuk mendeteksi dan menghentikan upaya aktor ancaman ransomware yang bergerak secara lateral melintasi jaringan dan sistem untuk mencapai tujuan mereka," kata Reuben.
Ditambahkan Reuben, dengan mengadopsi pendekatan micro-segmentation, sebuah perusahaan pada dasarnya membangun perimeter mikro sekitar beban kerja dan infrastruktur penting mereka.
Terkini Lainnya
- Bytedance "Suntik Mati" Fitur Mirip Instagram di TikTok
- Bagaimana Cara Wireless Charging di HP Bekerja? Ini Penjelasannya
- 7 Trik Memperkuat Sinyal di iPhone
- Kenapa Pesan WhatsApp Tidak Masuk Jika Tidak Dibuka? Ini Penyebabnya
- Apa Jadinya Jika iPhone Tidak Di-update?
- 4 Cara Melihat Password WiFi di Laptop dan PC untuk Semua Model, Mudah
- 10 Game Tersembunyi di Google, Begini Cara Mengaksesnya
- 4 Fitur di HP Samsung untuk Traveling yang Wajib Kalian Tahu
- Kontroversi Foto Jadi Ghibli Pakai AI yang Bikin Dunia Animasi Heboh
- Mengenal Liang Wenfeng, Pendiri Startup AI DeepSeek yang Hebohkan Dunia
- 6 Cara Bikin WhatsApp Terlihat Tidak Aktif biar Tidak Terganggu Saat Cuti Kerja
- 10 Aplikasi Terpopuler di Dunia, Ini yang Diunduh Paling Banyak
- Kisah Nintendo, Berawal dari Kartu Remi ke Industri Video Game Global
- Pendiri Studio Ghibli Pernah Kritik Keras soal AI
- Riset: Orang yang Sering Chat ke ChatGPT Ternyata Kesepian
- Harga Resmi Konsol Game Asus ROG Ally di Indonesia, Mulai Rp 10 Jutaan
- Elon Musk Tantang Duel, Zuckerberg: Share Loc!
- Cara Chatting di Gojek, Bisa Seperti di WhatsApp
- EA Sports dan EA Games Cerai, Jadi Perusahaan Sendiri
- Aplikasi Edit Foto Eksklusif Galaxy S23 Ini Bisa Di-download di Flagship Lawas Samsung