Ingin Ngirit, Google Jual Layanan Domains Rp 2,6 Triliun

- Google menjual salah satu layanannya, Google Domains, ke perusahaan penyedia situs web terintegrasi, Squarespace. Domains adalah layanan registrar internet yang dimiliki Google.
Dalam keterangan resminya, Squarespace berkata bahwa pihaknya sudah menandatangani perjanjian akuisisi dengan Google.
"(Kami) menandatangani perjanjian pembelian aset dengan Google, di mana Squarespace akan mendapatkan aset yang terkait dengan bisnis Google Domains," kata pihak Squarespace dikutip dari 9to5Google.
Rincian kesepakatan antara Google dengan Squarespace tak begitu dijelaskan, begitu pula soal mahar akuisisinya. Yang jelas, Squarespace mendapatkan sekitar 10 juta domain yang dihosting di Google Domains.
Baca juga: Perbedaan Domain dan Hosting, Jenis-jenis dan Fungsinya
Menurut sumber yang dikutip Bloomberg, nilai kesepakatannya sekitar 180 juta dollar AS (Rp 2,6 triliun).
Adapun alasan Google menjual bisnisnya itu adalah agar pihaknya bisa lebih fokus pada tujuan perusahaan. Sebab, Google berkata keputusannya itu sebagai "upaya untuk mempertajam fokus kami".
Menurut 9to5Google, klaim Google itu masuk akal, apalagi raksasa teknologi itu sedang mengedepankan efisiensi sumber daya perusahaan.
Setelah meresmikan kesepakatan, Google bakal membantu Squarespace dalam hal transisi pelanggan dalam beberapa bulan ke depan. Pasalnya, transaksi akuisisi baru akan ditutup pada kuartal III-2023.
"Squarespace dapat memberikan pengalaman terintegrasi dalam membeli dan mengelola domain, serta menawarkan alat lain yang mungkin diperlukan pelanggan untuk membangun eksistensi mereka di internet," ujar Google.
Baca juga: CEO Google Ungkap Alasan PHK 12.000 Karyawan
Menurut Squarespace, Google akan menutup pendaftaran domain dan bisnis hosting Domains setelah masa transisi akuisisi ditutup.
Bagi mereka yang sudah berlangganan Google Domains, Squarespace akan memperpanjang benefit yang didapatkan pelanggan, setidaknya sampai 12 bulan setelah transaksi ditutup.
Dengan begitu, pelanggan Google Domains tak perlu mengkhawatirkan atau melakukan perubahan apapun. Yang berubah adalah bahwa pelanggan Google Domains nantinya akan menjadi pelanggan Squarespace.
Google Domains sendiri memulai debutnya pada tahun 2015. Namun layanan ini hanya tersedia di Amerika Serikat selama tujuh tahun setelah rilis.
Baru pada tahun tahun 2022, Google memperluas layanannya itu ke 26 negara lainnya, hingga akhirnya dijual ke perusahaan lain sekarang.
Google tutup Stadia
Google tampaknya memang sedang berbenah, utamanya di tengah kondisi ekonomi yang sedang tidak menentu.
September 2022, raksasa teknologi itu mengumumkan rencana penutupan layanan cloud gaming Stadia, kemudian ditutup resmi 18 Januari lalu. Padahal, layanan tersebut baru dirilis tahun 2019.
Vice President and General Manager Stadia Phil Harrison dalam sebuah pengumuman yang diunggah di blog resmi Google mengatakan Stadia terpaksa harus ditutup karena kurang diminati oleh pengguna.
"Meski Stadia dibekali dengan teknologi mumpuni, layanan gaming tersebut ternyata belum mampu menggaet jumlah pengguna yang kami harapkan. Sehingga, kami memutuskan untuk mulai menghentikan layanan tersebut," ujar Phil, dikutip KompasTekno dari Google.com, Sabtu (17/6/2023).
Terkini Lainnya
- Bytedance "Suntik Mati" Fitur Mirip Instagram di TikTok
- Bagaimana Cara Wireless Charging di HP Bekerja? Ini Penjelasannya
- 7 Trik Memperkuat Sinyal di iPhone
- Kenapa Pesan WhatsApp Tidak Masuk Jika Tidak Dibuka? Ini Penyebabnya
- Apa Jadinya Jika iPhone Tidak Di-update?
- 4 Cara Melihat Password WiFi di Laptop dan PC untuk Semua Model, Mudah
- 10 Game Tersembunyi di Google, Begini Cara Mengaksesnya
- 4 Fitur di HP Samsung untuk Traveling yang Wajib Kalian Tahu
- Kontroversi Foto Jadi Ghibli Pakai AI yang Bikin Dunia Animasi Heboh
- Mengenal Liang Wenfeng, Pendiri Startup AI DeepSeek yang Hebohkan Dunia
- 6 Cara Bikin WhatsApp Terlihat Tidak Aktif biar Tidak Terganggu Saat Cuti Kerja
- 10 Aplikasi Terpopuler di Dunia, Ini yang Diunduh Paling Banyak
- Kisah Nintendo, Berawal dari Kartu Remi ke Industri Video Game Global
- Pendiri Studio Ghibli Pernah Kritik Keras soal AI
- Riset: Orang yang Sering Chat ke ChatGPT Ternyata Kesepian
- Ramai Pesan “Aplikasi Ini Tidak Kompatibel Lagi dengan Perangkat Anda” di Play Store, Apa Sebabnya?
- Ini Strategi Intel untuk Bersaing di Pasar GPU agar Arc Series Tetap "Hidup"
- Twitter Didenda Rp 3,7 Triliun karena Pakai Musik Tanpa Izin
- 6 Marketplace Terbesar di Indonesia Tahun 2022, Shopee Teratas
- Mudah dan Praktis, Begini Cara Aktifkan Berbagai Fitur Penunjang Gaming pada Samsung Galaxy A34