Developer Indonesia Akui Game Buatannya Lebih Laku di Luar Negeri

BALI, - Dua pengembang (developer) independen (indie) asal Indonesia mengakui bahwa game-game buatan mereka lebih laku di luar negeri daripada di Indonesia.
Hal tersebut dikatakan oleh developer atau studio game asal Bandung yang membuat game Dreadout, yaitu Digital Happiness serta studio game asal Jakarta yang membuat game Troublemaker, Gamecom Team.
CEO Digital Happiness, Rachmad Imron mengatakan bahwa jika diambil dari data penjualan game Dreadout (rilis 2014 lalu) secara keseluruhan, Indonesia merupakan negara peringkat ke-12 dari total kontribusi penjualan game tersebut.
Kontribusi gamer lokal meningkat ketika perilisan sekuel game Dreadout, yaitu Dreadout 2 (rilis 2020 lalu). Hingga saat ini, Indonesia menjadi negara ke-3 untuk total penjualan game horor tersebut. Namun, Imron enggan merinci angka atau persentase penjualan game besutannya, baik di Indonesia maupun di luar negeri.
Baca juga: 5 Tahapan yang Wajib Dilakukan Developer agar Game Mobile Sukses
Menurut Imron, Indonesia belum bisa menjadi negara tertinggi untuk penjualan game Digital Happiness karena budaya memainkan game gratis sangat melekat di masyarakat.
"Salah satu faktor Indonesia sulit menjadi negara penjualan tertinggi karena game-game kami, terutama Dreadout Series ini, memang premium alias tidak gratis. Di sisi lain, gamer di sini banyak yang mau main secara gratisan," jelas Imron kepada KompasTekno dalam ajang IGDX Conference 2023 yang digelar di The Stones Hotel, Bali, Jumat (13/10/2023).

Hal serupa disampaikan CEO Gamecom Team, Reza Febri Nanda. Ia mengeklaim bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-10 sebagai negara penyumbang total penjualan game terbaru Gamecom Team, Troublemaker. Ia enggan merinci lebih lanjut angka penjualan game buatannya, baik di Indonesia maupun di luar negeri.
Setali tiga uang dengan Imron, Nanda mengatakan penyebab rendahnya penjualan game buatannya di Indonesia adalah karena daya beli gamer di Tanah Air yang masih kurang, serta minimnya pemahaman pengguna di Indonesia terkait apa itu game premium.
"Selain itu, saat ini banyak game gratis yang bisa dimainkan dengan mudah melalui smartphone, sehingga tidak perlu menggunakan PC yang cukup repot, apalagi berbayar," kata Nanda di kesempatan yang sama.
Baca juga: Developer Asal Jogja Bikin Game Simulasi K-Pop, Pemain Bisa Jadi Manager Girlband
Basis pengguna PC di Indonesia sedikit
Terkait total penjualan game, Nanda memaklumi bahwa Indonesia kemungkinan besar sulit untuk menjadi kontributor terbesar untuk game buatan anak bangsa.
Sebab, salah satu faktor yang berkaitan erat dengan total penjualan game adalah basis pengguna di platform distribusi yang dituju.

Pada platform distribusi game PC Steam yang memampang game Troublemaker, misalnya, Nanda menyebut bahwa jumlah basis pengguna Steam di Indonesia berbeda jauh dengan Amerika Serikat (AS), yaitu 1,4 juta berbanding 13,7 juta.
Data tersebut diambil dari situs web pencatat jumlah pengguna di berbagai platform atau bidang www.worldpopulationreview.com.
Dengan kata lain, suatu game Indonesia, terutama game PC yang didistribusikan di Steam, kemungkinan besar akan memiliki penjualan terbanyak dari negara lain dibanding di negara sendiri.
"Jadi meskipun orang Indonesia banyak yang beli game kami atau banyak yang memainkan, dari segi penjualan mungkin akan kalah dari negara lainnya karena jumlah penggunanya juga kalah besar," pungkas Nanda.
Perlu dicatat bahwa data pengguna yang disampaikan Nanda ini adalah untuk platform Steam. Artinya, total penjualan game Troublemaker di platform lain, misalnya di konsol PlayStation atau Xbox, mungkin akan memiliki statistik berbeda dari Steam.
Terkini Lainnya
- Bocoran Spesifikasi HP Xiaomi 15 Ultra, Bawa Kamera Periskop 200 MP
- Ketika Google Mencibir, OpenAI Justru Meniru DeepSeek
- Harga ChatGPT Plus dan Cara Berlangganannya
- Ponsel Lipat Tiga Huawei Mate XT Ultimate Hiasi Bandara Kuala Lumpur Malaysia
- 9 Cara Mengatasi WhatsApp Tidak Ada Notifikasi kalau Tidak Buka Aplikasi
- Fenomena Unik Pakai Apple Watch di Pergelangan Kaki, Ini Alasannya
- 3 Cara Beli Tiket Bus Online buat Mudik Lebaran 2025, Mudah dan Praktis
- Instagram Uji Tombol "Dislike", Muncul di Kolom Komentar
- Video: Hasil Foto Konser Seventeen di Bangkok, Thailand, dan Tips Rekam Antiburik
- ZTE Blade V70 Max Dirilis, Bawa Baterai 6.000 mAh dan Dynamic Island ala iPhone
- 4 HP Android Murah Terbaru 2025, Harga Rp 2 juta-Rp 3 jutaan
- Cara Cek Numerologi di ChatGPT yang Lagi Ramai buat Baca Karakter Berdasar Angka
- 61 HP Samsung yang Kebagian One UI 7
- AMD dan Nvidia Kompak Umumkan Tanggal Rilis GPU Terbarunya
- 15 Masalah yang Sering Ditemui Pengguna HP Android
- LinkedIn PHK 600 Karyawan Global
- Pemerintah Siapkan Perpres Industri Game Nasional, Target Terbit Tahun Ini
- Foto-foto Hasil Jepretan Sony A7CR, Kamera Mirrorless Ringkas 61 MP
- Moonton Bagi-bagi Skin Khufra "Mobile Legends" Gratis, Begini Cara Mendapatkannya
- WhatsApp Android Tambah Fitur Passkey