ZippyShare Tutup Layanan usai 17 Tahun Beroperasi

- Selamat tinggal, ZippyShare. Layanan file hosting yang telah berdiri sejak September 2006 tersebut telah mengumumkan pihaknya bakal menutup layanan di akhir Maret 2023, Minggu (19/3/2023).
“Kami berencana untuk menutup layanan di akhir bulan. Cadangkan (backup) seluruh file penting Anda. Anda punya dua minggu untuk melakukannya. Sampai waktu itu tiba, situs akan berjalan tanpa ada perubahan,” tulis perusahaan di blog resminya.
Bagi yang belum familier, ZippyShare merupakan layanan yang mewadahi penggunanya untuk menyimpan dan mengirim data/file melalui internet. File tersebut mencakup database, foto, video, email, aplikasi dan sebagainya.
Baca juga: Definisi File Transfer Protocol, Fungsi, dan Manfaatnya
ZippyShare memudahkan penggunanya menyimpan dan mengirim file dalam berbagai jenis format, mempunyai tampilan antarmuka yang sederhana dan minimalis. Bahkan, layanan ini tidak dipungut biaya apapun, alias gratis.

Pengguna juga dimungkinkan untuk menyimpan dan berbagi data dengan ukuran masing-masing 500 MB per file-nya. Pengguna bisa mengakses layanan dengan mengunjungi ZippyShare.com atau aplikasi ZippyShare Uploader.
Aplikasi itu memungkinkan pengguna mengakses layanan tanpa melalui browser. Ciri khas itulah yang membuat ZippyShare sempat berjaya di masanya dan banyak dikenal oleh banyak orang.
Dalam pengumuman yang sama, perusahaan menjelaskan tiga alasan utama yang melatarbelakangi penutupan layanan ZippyShare, yakni faktor persaingan, pemblokiran iklan, dan
Pertama, saat ZippyShare berdiri pada 2006 lalu, perusahaan mampu menjadi pilihan utama masyarakat.
Sebab, salah satu nilai jual ZippyShare adalah bisa diakses tanpa biaya. Akan tetapi, berjalannya tahun demi tahun, pengguna yang menggunakan layanan ZippyShare semakin sedikit. Ditambah, perkembangan teknologi yang semakin maju membuat perusahaan sedikit tertinggal.
Baca juga: Dropbox Kini Bisa Kirim File hingga 100 GB Lewat E-mail
“Saya kira semua perusahaan layanan penyimpanan file yang bersaing di pasar menawarkan kinerja yang lebih baik, disertai fitur yang lebih banyak juga. Tidak ada lagi yang membutuhkan (layanan) dinosaurus (lawas) seperti kami,” tulis perusahaan.
Alasan yang kedua adalah fitur pemblokiran iklan (ad-blockers) yang semakin banyak digunakan. Seperti yang diketahui, fitur pemblokir iklan hampir digunakan di seluruh perangkat. Bahkan, fitur ini sudah terpasang secara otomatis.
Menurut perusahaan, kehadiran ad-blockers membuat mereka tidak dapat menghasilkan keuntungan. Dikarenakan iklan yang muncul di halaman ZippyShare bakal langsung diblokir oleh ad-blocker yang terpasang di peramban (browser) pengguna.
“Kami sampai di sebuah lingkaran setan. Untuk membayar infrastruktur server, kami harus menempatkan lebih banyak iklan di halaman website. Dikarenakan kini pengguna menjalankan banyak ad-blocker, maka sampailah kami di titik ini sekarang,” pungkas ZippyShare.
Model bisnis yang diterapkan ternyata terhambat dan berimbas ke aspek lain. Salah satunya perusahaan tidak lagi dapat membayar tagihan listrik
ZippyShare mengungkapkan bahwa selama setahun belakang, tagihan listrik naik sebanyak 2,5 kali lipat. Hal ini sangat memberatkan kondisi keuangan perusahaan yang semakin menipis.
Baca juga: Pengguna WhatsApp di Indonesia Sudah Bisa Kirim File 2 GB
Ketidakseimbangan antara jumlah server yang semakin banyak dan pemasukan yang kian menipis, membuat perusahaan semakin merugi, inilah yang menjadi alasan ketiga penutupan layanan.
Dihimpun KompasTekno dari Torrent Freak, Selasa (21/3/2023), ZippyShare merupakan situs yang masih diakses sebanyak 45 juta kali per bulannya. Situs tersebut juga masuk dalam 1.000 domain yang paling banyak dikunjungi di internet sampai saat ini.
Dengan angka sebesar itu, perusahaan tetap tidak dapat menghasilkan uang, atau tidak dapat balik modal. Hal tersebutlah yang mendorong perusahaan memutuskan memberhentikan layanannya di akhir bulan ini.
“Masih ada beberapa alasan kecil yang melatarbelakangi penutupan layanan, kami bahkan bisa menulis buku untuk hal itu. Akan tetapi, mungkin tidak akan ada orang yang mau membacanya. Ringkasnya, kami tidak mampu lagi memelihara situs ini,” tutup perusahaan.
Terkini Lainnya
- Motorola Edge 60 Fushion Meluncur dengan Layar Curved
- Perbedaan Status “Memanggil” dan “Berdering“ di WhatsApp saat Telepon
- Cara Mengatasi Play Store Tidak Bisa Download Aplikasi, Mudah dan Praktis
- Saham Perusahaan-perusahaan Teknologi Rontok akibat Tarif Trump
- Sejarah E-sports di Dunia, Turnamen dan Game Pertama hingga Masuk Cabang Olahraga
- Kisah di Balik Kesuksesan Jeff Bezos, Penjual Burger yang Jadi Pendiri Amazon
- Kamera iPhone Ngeblur Saat Ambil Foto? Begini Cara Mengatasinya
- Snapdragon 8s Gen 4 Resmi, Lebih Ngebut walau Pakai CPU Lama
- Cara Beli Tiket Bioskop Online buat Nonton Film Bareng Keluarga Saat Lebaran 2025
- Ponsel Lipat Masa Depan Samsung Bisa Ditekuk Dua Arah?
- Fitur Baru Instagram Reels, Video Bisa Dikebut seperti TikTok
- Tablet Samsung Galaxy Tab S10 FE dan Tab S10 FE Plus Resmi, Pakai Exynos 1580
- Kenapa Pesan WhatsApp Tidak Masuk Jika Tidak Dibuka? Ini Penyebabnya
- Konsol Nintendo Switch 2 Diumumkan, Meluncur 5 Juni, Ini Harganya
- Intel Menyerah dari Pasar GPU "High-End", Tumbang dari Nvidia dkk?
- Arti “Time Will Tell” yang Lagi Ramai Dipakai di Medsos
- Honor 70 Lite Meluncur Pakai Snapdragon 480+ Kamera 50 MP
- Netizen Indonesia Sibuk Internetan Saat Sahur sampai Pagi Selama Ramadhan
- Oppo A78 5G Meluncur di Indonesia, Harga Rp 4 Juta
- Amazon PHK 9.000 Karyawan, Termasuk AWS dan Twitch