FIFA Uji Coba Teknologi Canggih Pendeteksi Offside
- Federasi sepak bola dunia (FIFA) menguji coba teknologi yang bisa mendeteksi pemain jika berada dalam posisi offside. Teknologi tersebut diuji coba dalam turnamen Piala Arab 2021 yang digelar pekan ini.
Menurut pihak FIFA, teknologi ini yang disebut sebagai software "Semi-automated Offsides" ini mengandalkan 10 hingga 12 unit kamera yang ditempatkan di sekitar lapangan.
Kamera ini dapat memantau 29 titik di tubuh setiap pemain sebanyak 50 kali setiap detik. Selain itu, teknologi pendeteksi offside ini juga mengandalkan kecerdasan buatan.
"Teknologi ini sebenarnya mengacu pada pergerakan lengan pemain. Kemudian, kami menggunakan software untuk memproses data tersebut," jelas Director Football Technology & Innovation Football Division FIFA, Johannes Holzmuller dalam sebuah pernyataan.
Baca juga: EA Sports Setop Seri Game Sepak Bola FIFA?
Setelah itu, kamera-kamera tersebut bakal mengirimkan data yang telah dikumpulkan ke perangkat video assistant referee (VAR).
"Ada dua titik fokus yang dilihat kamera, yang pertama adalah titik fokus ketika pemain menendang dan mengoper bola, kemudian yang kedua adalah titik yang fokus kepada pemain yang dioper, tepatnya pada bagian tubuh mana yang dekat dengan garis gawang, dan pemain belakang lawan terdekat," tutur Holzmuller.
Nantinya, keputusan akhir apakah pemain dalam posisi offside atau tidak, masih mutlak berasal dari pengamatan wasit, dibantu oleh teknologi kamera dan informasi dari VAR tadi.
Sebagai informasi, offside merupakan suatu kondisi di mana posisi pemain berada di area lawan ketika bola sedang dioper menuju pemain tersebut. Di saat yang sama, tidak ada pemain lawan setelahnya selain penjaga gawang.
Baca juga: Game Sepak Bola FIFA 22 Sudah Bisa Dipesan, Ini Harganya
"Apabila pemain terdeteksi melakukan offside, peringatan secara otomatis bakal dikirimkan ke VAR. Nantinya, wasit yang memantau VAR akan menginformasikan wasit yang berada di lapangan terkait adanya pelanggaran offside," imbuh Holzmuller.
Menurut FIFA, teknologi ini sudah sempat diuji coba di Inggris, Spanyol, dan Jerman pada 2020 lalu, namun, sempat terkendala akibat pandemi Covid-19 sebagaimana dirangkum KompasTekno dari BBC.com, Jumat (3/12/2021).
Konon, teknologi ini bakal dipakai di gelaran Piala Dunia 2022. Namun, belum ada kepastian terkait hal tersebut. Kita nantikan saja.
Terkini Lainnya
- Apakah Mode Pesawat Bisa Menghemat Baterai HP? Begini Penjelasannya
- Ada Tonjolan Kecil di Tombol F dan J Keyboard, Apa Fungsinya?
- Cara Kerja VPN untuk Membuat Jaringan Privat yang Perlu Diketahui
- Konsol Handheld Windows 11 Acer Nitro Blaze 8 dan Nitro Blaze 11 Resmi, Ini Harganya
- X/Twitter Akan Labeli Akun Parodi
- Deretan Laptop Baru Asus di CES 2025, dari Seri Zenbook hingga ROG Strix
- 5 Penyebab Tidak Bisa Lihat Profil Kontak WA Orang Lain
- Cara Logout Akun Google Photos dari Perangkat Lain
- Reaksi TikTok soal Rumor Bakal Dijual ke Elon Musk
- RedNote, Medsos China Mirip TikTok Jadi Aplikasi No. 1 di AS
- Pasar Ponsel Dunia Akhirnya Membaik, Naik 4 Persen Tahun Lalu
- 10 Jenis Cookies di Internet dan Fungsinya
- Fitur Baru ChatGPT Bisa Ngobrol ala Gen Z
- Sah, AS Perketat Ekspor Chip AI ke Pasar Global
- Cara Edit Foto Background Merah untuk Daftar SIPSS 2025, Mudah dan Praktis
- Cara Kerja VPN untuk Membuat Jaringan Privat yang Perlu Diketahui
- Kebakaran Gedung Cyber Lumpuhkan Mesin CEIR, Registrasi IMEI Ponsel Terganggu
- YouTube Music Punya Fitur Rekap Tahunan Serupa Spotify Wrapped
- Gedung Cyber Disebut Tak Penuhi Standar untuk Simpan Data Center
- Bukan Api, Penyebab Tumbangnya Layanan Internet Imbas Kebakaran Gedung Cyber
- Indosat Rilis Paket IM3 Freedom Internet 2,5 GB Rp 9.900